Sabtu, 11 Oktober 2008

Ketupat dalam Seni dan Tradisi

Bogor, Jurnal Bogor

Tidak lama lagi hari lebaran akan tiba. Di Indonesia Idul Fitri identik dengan makan ketupat, di setiap rumah makanan yang satu ini seakan wajib tersedia. Namun untuk membuat ketupat yang memiliki citarasa istimewa gampang-gampang susah. Kadang ketupat terlalu keras, bahkan tak tahan lama. Padahal, biasanya ketupat lebaran dibuat dalam jumlah yang agak banyak untuk 2-3 hari ke depan.

Bagi sebagian orang, sifat ketupat yang gampang-gampang susah itu merupakan satu seni. Bahkan bagi masyarakat Jawa, selain dari nama dan bentuk, proses pembuatan ketupat memiliki makna dan arti tersendiri yang menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat Jawa.

Nama ketupat yang di Jawa disebut kupat konon berasal dari idiom ngaku lepat, atau mengakui kesalahan. Tradisi ketupat mengandung makna mengakui kesalahan diri sendiri, sehingga mau memaafkan kesalahan orang lain.

Sedangkan dari bentuknya, selain bentuk ketupat yang telah dipelajari sejak SD, ada satu bentuk ketupat yang umum ditemui ketika lebaran, yang dalam masyarakat Jawa disebut bentuk kiblat papat lima pancer. Artinya, empat macam nafsu manusia, yaitu amarah, aluamah, supiah, dan mutmainah. Keempat nafsu tersebut merupakan nafsu yang kita taklukkan selama berpuasa. Jadi, dengan makan ketupat, disimbolkan kita sudah mampu melawan dan menaklukkan empat nafsu itu.

Luhurnya filosofi yang terkandung dalam ketupat tersebut, membuat makanan ini terasa istimewa di hari raya. Nah, Supaya ketupat yang dibuat di rumah tidak cepat basi, gurih, dan memiliki kekenyalan yang pas, bisa dipraktikkan cara membuat ketupat berikut ini:

Bahan:

1 kilogram beras, 1/2 sendok teh air kapur sirih, 2 sendok makan garam, 10-15 kulit ketupat, air untuk merebus.

Cara Membuat:

Cuci bersih beras, tiriskan sampai tidak ada airnya. Campur beras dengan kapur sirih dan garam, ratakan. Isi kulit ketupat dengan beras sampai 3/4 penuh. Panaskan air hingga suam kuku, masukkan ketupat. Masak ketupat hingga matang, kurang lebih selama 4 jam.

Perlu diperhatikan, pilihlah kulit/cangkang ketupat seukuran kepalan tangan orang dewasa, yang masih segar (berwarna kuning muda kehijauan) agar ketupat lebih bersih dan putih. Beras yang digunakan harus dicuci bersih dan direndam selama tiga jam, di mana hasil tirisannya dicampur dengan sedkit kapur sirih sebelum dimasukkan ke dalam kulit ketupat. Air kapur sirih dapat membuat ketupat lebih awet dan tidak cepat basi. Agar rasanya lebih gurih, bisa tambahkan garam pada beras.

Dalam merebus ketupat selama 4-5 jam tesebut, ketupat harus dalam keadaan terendam penuh di dalam air. Oleh karena itu, segera tambah air bila mulai susut. Setelah matang, ketupat harus digantung atau diangin-anginkan sampai kering.

Dalam menikmati ketupat, tentunya jelas tidak afdol jika tanpa lauk pauknya. Opor ayam, rendang daging, gulai kambing, gulai kambing, sambal goreng hati, dan menu-menu khas lainnya yang biasanya mengandung santan, merupakan penganan yang wajib mengikutinya.

Selamat menikmati ketupat lebaran dan selamat Idul Fitri 1429 Hijriyah. Tuang kupat nganggo santen, menawi lepat, nyuhunken ngahapunten.

Rudi D. Sukmana

Tidak ada komentar: